Filed under: Belajar Dari Pengalaman . . .
Mengenal Sesuatu Yang Baik dari Karakter Kepribadian Buruk
Manusia diciptakan Allah SWT memiliki akal/pikiran dan perasaaan, ada berbagai macam karakter dari seseorang yang bahkan tidak secara sadar itu sudah menjadi kepribadian dasar, atau dengan kata lain bisa disebut dengan kecenderungan sifat. Sejauh mana kita bisa mengetahuinya, lantas kemudian menyadari untuk memilih, apakah kita tetap pada seperti itu atau merubahnya menjadi lebih baik dalam proses kedewasaan.
-
Egois , tidak selamanya buruk sebagaimana hasil yang terjadi, apabila kita telusuri egois dipergunakan dengan alasan mempertahankan diri ataupun orang lain misalnya Keluarga, egois telah berubah menjadi Pendirian yang Kuat untuk tidak terpengaruh oleh hal-hal yang mungkin kita anggap dapat membahayakan. Akan tetapi egois banyak terdapat pada ruang sempit bahwa hal ini adalah mendahulukan kepentingan pribadi, merasa benar tidak mau mengalah akan tindakan-tindakannya sesuai jalan pemikiran masing-masing, tidak bisa ditegur ataupun kasarnya diusik keberadaannya. Egois bisa berperan cukup membantu dalam mengambil keputusan walau kenyataannya tetap harus dipertimbangkan dengan hal lain.
-
Temperamental, yang berkaitan dengan emosi yakni lebih cenderung kepada amarah, memang nyata merupakan sikap sekaligus sifat yang tidak baik, akan tetapi seseorang yang marah pun pasti ada alasannya, bisa berupa marah kepada diri sendiri, orang lain ataupun bentuk lain dari situasi yang mungkin tidak sesuai dengan penerimaan jiwa seseorang pada saat yang bersamaan terjadi. Orang yang memiliki jiwa temperamental ini bisa saja menjadi karakter kuat apabila diasah dengan kewibawaan dan kharisma yang tinggi dalam contoh halnya memimpin sebuah organisasi sebagai jiwa pemimpin yang tegas, yg berwujud otoriter ataupun demokrasi.
-
Sensitif, sifat seseorang yang tidak semua memilikinya, sebab factor yang mempengaruhi sifat ini pada umumnya berasal dari turunan orang tua dan juga berpengaruh dari lingkungan sekitar . Seperti mudah tersinggung lantas menjadi sedih , marah bahkan senang tertawa, merupakan ciri sifat seseorang yang bisa dikatakan sangat peka atau bahasa jaman sekarang “ GeeR “. Namun orang yang peka itu dapat menjadi sangat baik apabila lanjut berperan dalam tindakan-tindakan kepedulian antar sesama manusia dan makhluk hidup , seperti membantu penderitaan orang lain, peduli lingkungan hidup kelestarian alam dan hewan.
-
Malas dan Pesimis. Kedua sifat itu sangat relevan karena apabila ditanyakan pada seseorang kenapa dia tidak beranjak untuk mengerjakan sesuatu diiringi dengan jawaban yang menganggap remeh, menunda bahkan menilai bahwa dirinya tidak perlu melakukan itu, karena untuk kepentingan apa dan siapa , semacam perhitungan untung dan ruginya, dalam waktu dekat ataupun nanti. Salah satu cara penanggulangan sifat ini adalah belajar lebih menghargai sesuatu hal yang kecil dengan inisiatif dan yakin hal itu akan menumbuhkan kebiasaan hidup yang teratur dan tearah.
-
Negative Thinking , mungkin bisa dibilang bukan merupakan sifat, karena pada terbentuknya ini lebih dipengaruhi oleh pengalaman kejadian-kejadian sebagai patokan sehingga sikap paranoid pun akhirnya digunakan dengan alasan yang berbagai macam. Seorang yang berpikiran buruk pasti lebih waspada menghadapi sesuatu hal dengan memandang sisi buruk terlebih dahulu untuk kemudian bisa dipertimbangkan wajar atau tidaknya walaupun pada nantinya pencapaian itu bisa saja berbuah menjadi hal terbaik ataupun terburuk. Sebagai contoh apabila kita menghadapi kasus dalam memilih merk kendaraan mobil ataupun motor, dengan berbagai survey produk, harga dan kualitas dari narasumber, pada intinya kesemua fungsi barang kendaraan itu sama yaitu transportasi, namun masih muncul pertanyaan kenapa orang tidak memilih merk B ketimbang merk A karena perbedaan opini , yang dipilahkan kepada diri masing-masing dengan pertanyaan perbandingan “ Ah, merk ini khan gak sebagus orang-orang bilang, jelas lebih memilih yang pasti-pasti saja “ ( Padahal pada kenyataannya masih belum dapat terbukti benar ), Sederhananya negative thinking adalah keraguan yang lebih cenderung takut menentukan atau menghadapi sesuatu hal dikarenakan resiko yang bakal didapat.
-
Ngotot / Nekat, perilaku yang unik karena dapat berdampak baik ataupun buruk tergantung dari motivasi alasan mengapa sifat ini diberlakukan oleh orang yang berkaitan. Lebih cenderung berspekulasi tinggi, tidak melihat keadaan, hanya memikirkan apapun caranya harus mendapatkan hasil yang ingin dicapai. Padahal dengan cara penyampaian yang baik dan benar dapat menghasilkan suatu karakter seseorang yang bertekad kuat dalam mencapai cita-citanya.
-
Tidak Jujur dan Manipulatif, meskipun benar merupakan perilaku sangat tidak baik sampai-sampai menjadi kebiasaan / tabiat buruk. Ketidakjujuran masih dapat ditoleransi oleh alasan untuk kebaikan, tetapi pada kapasitasnya sangat tidak dianjurkan, sebab dapat berdampak baik untuk satu sisi belum tentu untuk orang lain. Dan perilaku ini akan beranjak kepada sikap Manipulatif yang sangat berbahaya sekali karena pada dasarnya orang menjadi lebih cenderung membuat keadaan menjadi tidak sesuai dengan fakta yang dialaminya, kasarnya mengarang-ngarang cerita dan sebagainya dalam waktu terus menerus. Dan pengakuan untuk berhenti pada situasi ini belum tentu dapat diterima sebagaimana mestinya diharapkan bisa dimaklumi oleh orang lain yang bersangkutan dalam kehidupan social.
-
Sombong, sudah pasti sering terdengar tidak sangat mengenakkan apabila kita dinilai oleh orang lain seperti ini. Kesombongan lebih identik dengan hal-hal yang bersifat duniawi sebagai contohnya karena kedudukan , harta ataupun memiliki sesuatu yang mungkin , kita anggap tidak bisa dilakukan oleh orang lain. Sifat ini tercermin dari kebanggaan diri yang berlebihan. Padahal sebenarnya apabila kita dapat mengatur diri kita untuk menjadi sombong tidaklah seburuk akan dampak pengaruhnya. Orang lain hanya menilai kesombongan itu sebagai suatu kondisi yang mungkin tidak sesuai dengan penerimaan jiwa ataupun pemikiran semestinya, terhadap lingkungan sekitar. Kesombongan akan menjadi berguna apabila kita mengadaptasikannya dengan maksud menjaga harga diri untuk tidak dinilai rendah oleh orang lain, membentengin diri dari pengaruh buruk. Orang yang sombong cukup sukses karena pencapaian hidupnya yang keras, menghargai hal-hal yang dirasa tidak mudah, menjaga sesuatu dalam dirinya untuk bisa tetap berada pada keyakinan diri. Akan tetapi pada kondisi ini harus diatur tingkatnya dan diupayakan sebuah komunikasi yang baik, karena kesombongan lebih banyak terkesan dari cara pembicaraan terhadap orang lain. Kebalikannya adalah easy going , ramah , bersahaja tentu saja lebih mulia daripada sifat sombong itu, sifat sombong hanyalah sebuah individualitas.
Penuturan saya akan tulisan diatas hanyalah berupa opini, keyakinan nilai dan moralnya pun masih dapat ditanggapin secara personal untuk benar atau tidaknya permasalahan tersebut. Mohon maaf apabila terkesan sok tahu karena saya sebagai penulis hanya bermaksud berbagi pemikiran dengan rekan-rekan sekalian yang semoga saja bisa bermanfaat dalam menghadapi dunia kerja dan tentunya kehidupan sehari-hari. Terima Kasih . Wassalam.
Leave a comment
Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>